Reborn
  
BAPTISAN YESUS: TANDA SOLIDARITAS
Dipublikasikan pada 09 Januari 2022
3 min baca

Bacaan: Lukas 3:15-17, 21-22

Solidaritas berarti perasaan setia kawan, merasa senasib sepenanggungan. Perasaan ini sering kali ditunjukkan dengan simbol-simbol tertentu. Misalnya sebagai bentuk solidaritas terhadap penderita HIV/AIDS maka pada saat peringatan Hari AIDS sedunia, 1 Desember, banyak orang memakai pita merah. Pita ini disematkan pada baju. Atau sebagai bentuk solidaritas dan keprihatinan atas kekerasan terhadap pekerja pers, maka orang-orang memakai pita putih yang diikatkan pada lengan. Pemakaian simbol-simbol itu tentu mendatangkan kesan tersendiri dan bisa jadi sangat menyentuh. Namun akan sangat disayangkan jika solidaritas hanya berhenti pada diskusi dan simbolisasi. Solidaritas juga membutuhkan aksi. Tindakan nyata yang dilakukan untuk memberi dukungan dan meringankan beban dari pihak-pihak termarginal atau yang sedang mengalami sengsara. Hanya dengan aksi nyata itulah maka solidaritas menjadi bermakna.

Allah kita melakukan aksi tersebut. Ia tidak hanya mengetahui dan mengerti penderitaan manusia akibat dosa, namun Ia menunjukkan solidaritas-Nya dengan berkarya nyata. Allah mau turun ke dalam dunia dan mengambil rupa seorang manusia – dalam diri Yesus – agar Ia bisa menjadi korban yang suci untuk karya penebusan umat manusia yang berdosa. Tanda kesediaan Yesus menjalani seluruh aksi tersebut adalah dengan menjalani baptisan. Mengapa harus dengan baptis?

1. Karena baptisan merupakan tanda ikatan perjanjian antara Allah dan manusia.

Jikalau dalam Perjanjian Lama Allah memakai tanda ikatan tersebut dengan sunat, maka dalam Perjanjian Baru Allah menggunakan baptisan. Perjanjian yang dibuat Allah untuk manusia adalah janji untuk menyelamatkannya. Maka dengan Yesus menjalani baptisan, sesungguhnya Allah ingin meneguhkan ikatan perjanjian tersebut agar manusia ditolong untuk makin mudah mempercayai perjanjian tersebut.

2. Karena baptisan merupakan tanda ketaatan.

Baptisan memang tidak menyelamatkan. Namun manusia diundang untuk menjalani baptisan sebagai wujud ketaatannya kepada Allah, tanda awal dimulainya hidup yang baru setelah ia menerima anugerah keselamatan dari Allah. Pada saat itulah manusia menyerahkan hidup pada pimpinan kasih Allah; bukan lagi pada nafsu dosa. Yesus memang tidak berdosa dan tidak membutuhkan baptisan, namun Ia bersedia menjalaninya sebagai bukti ketaatan-Nya menjalankan misi Allah untuk menyelamatkan seisi dunia.

Jika Allah telah menunjukkan aksi solidaritas-Nya sedemikian besar kepada kita, maka kini kita diundang untuk juga bersolidaritas secara nyata bagi sesama. Masih banyak orang yang berjalan dalam kegelapan, kehilangan arah hidup dan tidak merasakan kehangatan cinta kasih Bapa. Mungkin karena tindak kejahatan yang dialaminya, mungkin juga karena ia dipenuhi nafsu dosa. Mari kita memenuhi undangan Bapa dengan kesediaan untuk hadir dalam penderitaan sesama dan berkarya untuk membebaskannya. Tuhan Yesus memampukan dan memberkati kita semua.

Pdt. Rinta Kurniawati Gunawan

GKI Peterongan Semarang

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
4 Orang Membaca