
Matius 28:16–20 (dan Mazmur 8)
Di era digital dan sosial hari ini, kita hidup dalam dunia yang penuh dengan sekat dan syarat. Sadar atau tidak, hampir semua ruang kehidupan memberlakukan sistem “paywall”: jika ingin berpartisipasi atau mendapatkan fasilitas terbaik, kita harus subscribe atau membayar premium terlebih dahulu. Bahkan dalam dunia kerja dan sosial, polanya serupa; kita kerap dituntut memiliki koneksi "orang dalam" untuk bisa masuk ke lingkaran yang aman atau sekadar didengar opininya. Sistem eksklusif ini pelan-pelan memicu rasa lelah dan frustrasi bagi mereka yang tidak punya modal ataupun jaringan. Di tengah sekat keterasingan ini, pernahkah kita merindukan sebuah ruang persekutuan yang benar-benar tulus menerima dan merangkul kita tanpa menuntut syarat kelayakan yang melelahkan?
Ketika kita menyandingkan Matius 28:16–20 dan Mazmur 8, kita menemukan bahwa Allah justru datang untuk menjungkirbalikkan logika dunia yang serba transaksional tersebut. Pemazmur di masa lalu terpaku kagum melihat semesta dan heran mengapa Allah yang sedahsyat itu mau mengingat dan memercayakan bumi kepada manusia yang begitu kecil. Kebingungan itu terjawab utuh saat Yesus menyatakan mandat-Nya; Ia tidak sedang memberikan kuliah teori yang rumit tentang dogma Trinitas, melainkan membungkus diri-Nya bersama Sang Bapa dan Roh Kudus dalam satu nama untuk menunjukkan identitas Allah yang seutuhnya. Allah kita bukanlah penguasa tunggal yang dingin dan menuntut kita untuk subscribe pada standar tertentu, melainkan sebuah komunitas kasih yang kekal—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—yang saling memberi, menopang, dan membuka diri agar kita dapat ikut berpartisipasi dalam persekutuan-Nya.
Namun, membaca kemuliaan rancangan Allah ini di tengah realitas dunia hari ini rasanya sangat mengusik batin. Dunia yang diciptakan untuk mencerminkan keagungan-Nya kini tampak seperti panggung kengerian akibat berita peperangan, konflik bersenjata, dan krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai. Manusia telah kehilangan pandangan akan keluhuran martabat Imago Dei (rupa Allah) dan memilih untuk saling menyerang serta merusak planet ini demi ego kelompok. Apa artinya celoteh manis anak-anak yang menurut Mazmur 8 dirancang untuk menghadirkan rasa aman, jika hari ini wajah-wajah tak berdosa itu justru menjadi korban reruntuhan bom egoisme politik atau kekerasan di ruang kelas mereka sendiri? Kita telah mencampuradukkan mandat "berkuasa" atas bumi dengan hak istimewa untuk mengeksploitasi sesama demi ambisi pribadi.
Di sinilah mandat Yesus untuk "jadikanlah murid" (mathēteuō) memanggil kita kembali untuk menarik manusia keluar dari lingkaran setan kekerasan dan ketidakpedulian tersebut. Menjadi murid bukanlah program rekrutmen massal demi mengejar angka statistik organisasi, melainkan undangan untuk diutus oleh Diri Allah sepenuhnya menjadi rekan kerja dalam sebuah gerakan besar yang intinya adalah belas kasihan. Baptisan dalam nama Allah Tritunggal menuntut kita mengubah cara pandang tentang penatalayanan bumi: kita tidak sedang menguasai tanpa batas, melainkan sedang menggembalakan kehidupan agar segala makhluk dapat tumbuh subur. Pengalaman mistis bersama Allah ini tidak boleh berhenti menjadi nyanyian indah di hari Minggu, melainkan harus meluap menjadi "liturgi kehidupan" yang berani merawat masa depan bersama di jalanan.
Panggilan untuk mewujudkan kasih Trinitas yang berkelanjutan ini menjadi sangat konkret ketika kita melihat perjuangan masyarakat adat Suku Awyu di Boven Digoel, Papua. Di balik simbol salib merah besar yang mereka tancapkan di tanah leluhur, ada jeritan batin sebuah komunitas yang sedang berjuang mempertahankan hutan adat dari kepungan ekspansi industri. Bagi mereka, hutan adalah ruang hidup, identitas spiritual, dan masa depan generasi yang kini terancam oleh keserakahan global yang kerap mendanai konflik demi mengeruk sumber daya. Salib merah itu menjadi pertanyaan tajam bagi iman kita: apakah persekutuan kita hari ini berani meruntuhkan paywall kenyamanan batin kita sendiri untuk ikut merasakan penderitaan sesama yang bumi, hakikat hidup, dan masa depannya sedang dirampas?
Kasih Trinitas yang kita sembah adalah kasih yang berkomitmen penuh pada keadilan, perdamaian, dan pemulihan kehidupan. Kita diayomi oleh kasih Bapa yang menciptakan semesta, digerakkan oleh teladan Anak yang solider dengan penderitaan manusia, dan dikuatkan oleh kuasa Roh Kudus yang memberi kehidupan. Kita dihimpun bukan untuk menjadi komunitas yang pasif dan menutup mata terhadap luka-luka dunia. Di tengah segala keterbatasan, ketakutan, dan keraguan kita, janji-Nya tetap teguh: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Mari melangkah keluar dari zona nyaman, runtuhkan sekat-sekat eksklusivitas, wartakan Sang Trinitas melalui tindakan solidaritas nyata, dan rawatlah masa depan bersama dengan penuh keberanian. Amin.