Reborn
  
JALAN KEBENARAN: FONDASI MASA DEPAN YANG KOKOH
Dipublikasikan pada 03 Mei 2026
4 min baca

Bacaan: Kisah Para Rasul 7:55-60 & Yohanes 14:6-7

Seseorang akan secara otomatis memancarkan bentuk perilaku dan perkataan berdasarkan nilai atau prinsip yang ia percayai dan imani selama hidupnya. Termasuk juga kita sebagai orang Kristen akan memancarkan bentuk gerakan hingga ucapan yang datang dari sebuah nilai yang telah mengkristal selama bertahun-tahun dalam hidup kita. Maka, seluruh bentuk gerakkan hingga cara bicara kita akan memuliakan Tuhan jika nilai dalam hidup kita adalah nilai Kristus. Masalahnya adalah tidak semua bentuk perilaku kita membawa kemuliaan Tuhan karena jangan-jangan ada yang salah dengan prinsip hidup yang telah kita percayai selama ini. Padahal kita sudah mengenal Firman Allah sejak dini, tahu tentang Tuhan, sudah dengan khotbah, tapi kita masih gagal memuliakan Tuhan karena mindset di kepala kita masih menjadi penghalang bagi kita untuk membawa orang lain melihat kemuliaan Allah. Oleh karena itu, hari ini kita belajar lewat Firman Tuhan cara mengandalkan Allah.

Pertama, menyadari pengenalan dan relasi dengan Yesus sebagai tujuan utama hidup kita. Pada kisah Thomas di Injil Yohanes 14, Thomas kebingungan ke mana perginya guru-Nya karena dalam imajinasi Thomas Yesus diharapkan membawa kebebasan bagi umat Israel dan menjadi Raja atas Israel selama-lamanya, sehingga secara pasti Thomas mendapatkan jabatan tinggi. Tapi Yesus membuka pembicaraan tentang Ia yang akan meninggalkan mereka dan pergi ke tempat Bapa-Nya. Thomas menjadi kaget dan bingung ke mana Yesus pergi karena tempat yang disebutkan oleh Yesus masih abstrak. Yang menyebabkan mereka bingung adalah karena mereka masih berpikir secara fisik dan tidak bisa melihat di balik itu semua. Thomas terlihat masih berpikir bahwa Tuhan harus di sini, supaya saya bisa tetap mendapatkan kesuksesan hidup. Cara pandang Thomas melihat Yesus sebagai alat ketimbang menuhankan Yesus. Maka dari itu, Yesus menjawab, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Kata-kata Yesus menunjukkan bahwa seharusnya Yesuslah yang menjadi tujuan mereka. Nah, sering kali kita menemukan kenyataan bahwa kita menjadikan Tuhan Yesus sebagai alat untuk mencapai keinginan kita, alih-alih menjadikan pengenalan dan relasi dengan Tuhan Yesus sebagai yang utama. Hati-hati, motivasi sebuah karya kita atau sebuah acara itu sangat bisa diukur dari hal yang sederhana, yaitu apakah orang di sekitar yang berinteraksi dapat merasakan kehadiran Tuhan atau tidak.

Kedua, menyadari Yesus adalah sumber kekuatan dalam penderitaan. Pada Kisah Rasul 7:54 diceritakan bahwa para ahli Taurat saat itu merasa tersinggung dengan pembelaan Stefanus dan pada akhirnya membunuh Stefanus. Memang perkataan sindiran Stefanus sangat tajam. Masalahnya, mereka belajar tentang Allah, tahu Hukum Taurat, tapi mereka tidak mau peka terhadap kehadiran Tuhan. Ayat ke-57 mencatat bahwa mereka berteriak-teriak supaya tidak bisa mendengar suara Allah lewat Stefanus. Sementara di sisi lain, Stefanus dalam tekanan tetap bergantung kepada Allah. Meskipun Stefanus tetap mati, di momen akhir hidupnya, ia dapat menjadi berkat dengan berdoa kepada Tuhan supaya Allah mengampuni dosa orang yang menyiksanya. Nah, sering kali pula kita berdoa kepada Tuhan untuk menyelesaikan masalah ini ketika kita menghadapi permasalahan hidup. Memang doa tersebut tidak salah, namun kita perlu menyadari kehadiran-Nya ketika masalah itu hadir ketimbang terburu-buru menyelesaikan masalah. Bisa jadi dalam penderitaan atau dalam masalah yang kita hadapi, justru Dia hadir dalam bentuk pelajaran hidup yang pada akhirnya menjadi berkat bagi orang lain. Oleh karena itu, kita perlu menjaga kepekaan rohani kita dengan Tuhan dengan membangun waktu teduh secara intens sehingga kita dapat memahami kehadiran-Nya di tengah penderitaan yang kita alami.

AMIN

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
Bagikan Artikel Ini