
Bacaan: Keluaran 12: 1-14
Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya, “Lemparkanlah semua anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam Sungai Nil, tetapi semua anak perempuan biarkanlah hidup” (Keluaran 1:22). Ini memberikan gambaran yang jelas kepada kita, seperti apa genting dan mencekamnya situasi pada zaman Musa lahir. Kalau dipikir-pikir, mungkinkah Musa sebagai bayi laki-laki orang Ibrani dapat lolos dari situasi yang mengerikan ini? Ancaman berupa tindakan bengis dan kejam muncul dari penguasa yang sedang di puncak kejayaan. Kuasa tiada banding dan tiada tanding sedang berada di genggaman Firaun. Amat sukar membayangkan bahwa Musa dapat luput dari kematian yang dramatis, sadis dan tragis. Namun, di konteks zaman seperti inilah cinta kasih dan kepedulian Allah yang membebaskan mendapatkan ruang dan kesempatan untuk diwujudnyatakan. Secara ajaib, Musa dapat melewati kerja paksa yang diberlakukan kepada leluhur dan orang tuanya. Musa lolos dari masa pemaksaaan kerja berat yang membuat hidup nenek moyangnya pahit. Ia juga lolos dari tangan para bidan yang diperintahkan bukan untuk menolong proses bersalin agar lancar dan selamat, tetapi diperintah untuk membunuh setiap bayi laki-laki keturunan orang Ibrani. Ini masih ditambah lagi dengan keberhasilan Musa disembunyikan dengan aman, hingga akhirnya terjadi peristiwa ‘ia dihanyutkan di Sungai Nil’ dalam kawalan kakaknya, ditemukan dan dirawat putri Firaun, disusui oleh seorang ibu penyusu yang notabene adalah Ibunya sendiri. “Ketika anak itu telah besar, ia membawanya kepada putri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya. Ia menamainya Musa: karena aku telah menariknya dari air” (Keluaran 2:10). Inilah cinta kasih dan kepeduliaan Allah yang membebaskan Musa dari kematian. Musa pun beroleh hidup karena Tuhan.
Pengalaman mendapatkan cinta kasih dan kepedulian Allah yang membebaskan ini menjadi roh, prinsip, dasar, dan landasan kerangka hidup dan karya seorang Musa. Ia hidup dan hadir sebagai seorang yang telah beroleh cinta dan kepedulian Allah. Sebab itu, nyala cinta kasih dan kepeduliaan Allah berkobar dalam dirinya. Pada saat Allah memerintahkannya untuk melakukan perbuatan cinta dan kepedulian kepada segenap jemaah Israel, ia pun bergegas melakukannya, gak pake lama. Hatinya dipenuhi cinta dan kepeduliaan Allah. Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal 10 bulan ini setiap orang harus mengambil seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga menurut kaum keluarganya. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil, ia bersama tetangga yang paling dekat rumahnya harus mengambil seekor anak domba menurut jumlah jiwa. Perkirakanlah pembagian mengenai anak domba itu menurut keperluan tiap-tiap orang”. dst (Keluaran 12:3-4, dst).
Aksi Musa ini membuat cinta kasih dan kepedulian Allah mengalir bagi segenap jemaah Israel. Pada saat Tuhan Allah menjelajahi tanah Mesir, rumah jemaah Israel yang dibubuhi darah anak domba dilewati-Nya. Jadi, tidak ada tulah kebinasaan di antara jemaah Israel ketika Allah menghukum Mesir. Peristiwa cinta kasih dan kepedulian Allah ini harus menjadi peringatan bagi segenap jemaah dan harus dirayakan sebagai hari raya bagi Tuhan secara turun-temurun, dan menjadi ketetapan untuk selamanya.
Hari ini, kita belajar dari Musa. Ia menunjukkan bahwa seorang yang telah mendapatkan cinta dan kepeduliaan Allah yang membebaskan, tak akan pernah menjadi sosok yang abai dan tidak peduli pada kehidupan yang membutuhkan sapaan, lawatan dan sentuhan cinta dan kepeduliaan. Musa telah menjadi contoh, bagaimana ia yang dicintai dan dipedulikan Allah memilih hidup sebagai pribadi yang mencintai dan peduli pada dirinya, dan sekaligus mencintai dan peduli pada komunitas kehidupannya, yaitu jemaah Israel. Musa merayakan hidup yang tidak menyusahkan Tuhan dan sesamanya. Musa menjalani hidup yang menunjukkan jalan dan meringankan kehidupan orang lain.
Bagaimana dengan kehidupan kita? Bukankah kita juga orang-orang yang telah mendapatkan cinta dan kepedulian Allah yang membebaskan? Adakah ciri-ciri hidup yang didominasi dan diwarnai cinta dan kepedulian hidup, tumbuh, berkembang dan berbuah dalam keseharian kita? Adakah orang-orang yang berjumpa dengan kita sungguh-sungguh dapat merasakan dan merayakan cinta dan kepeduliaan Allah? Saya berdoa dan berharap, semoga cinta kasih dan kepedulian Allah berdiam di hati kita dan memancar dalam kehidupan kita, di tengah keluarga, gereja,masyarakat dan bangsa Indonesia.Amin.
*Pdt. Setyahadi