Reborn
  
HIDUP BERKELIMPAHAN DALAM PIMPINAN KRISTUS
Dipublikasikan pada 26 April 2026
4 min baca

Kisah para rasul 2:41-47; Yohanes 10:1-10

Banyak orang menyukai kata berkelimpahan karena dunia ini menggambarkan berkelimpahan selalu berkaitan dengan hal-hal materialistis. Setidaknya ada bayangan bahwa berkelimpahan artinya punya lebih dari cukup, tidak berkekurangan, dan tidak perlu takut kehilangan. Sehingga secara otomatis orang yang mendengar kata tersebut langsung membayangkan berkelimpahan uang, aset, kenyamanan, dan rasa aman. Namun hal ini menjadi sebuah pertanyaan ketika kita hidup sebagai pengikut Kristus: “Apakah hidup berkelimpahan dalam pimpinan Kristus memiliki arti dan pemaknaan yang sama?”

Dalam Injil Yohanes 10:1-10 kita bisa memahami bahwa Tuhan Yesus datang agar umat-Nya memiliki hidup dan memilikinya dengan berlimpah-limpah (Ay. 10). Namun Ia juga menjelaskan pada kita bahwa ada pencuri (Orang Farisi) yang sewaktu-waktu siap untuk datang mencuri, membunuh, bahkan membinasakan. Artinya kita berada dalam situasi yang sewaktu-waktu bisa diganggu oleh si jahat. Dalam kondisi ancaman tersebut, kita melihat Tuhan Yesus berkata “Akulah pintu…Akulah gembala yang baik” (Yoh. 10:7,11). Kehadiran Kristus sebagai Gembala dan pintu memberikan kita jaminan kehidupan, bahwa kita akan terus dikasihi, dipelihara dan dilindungi dari ancaman pencuri. Ia tidak hanya memberikan kehidupan bagi kita, tapi Ia juga memberikan diri-Nya untuk memimpin, mengenal, dan membawa kita masuk ke dalam hidup yang sejati.

Maka hidup berkelimpahan yang Tuhan Yesus maksudkan bukanlah tentang memiliki lebih banyak hal materi tetapi bagaimana hidup yang dimiliki tidak lagi kosong, dan hidup seutuhnya di dalam pimpinan Kristus. Kita menyadari banyak orang hidup namun seakan dirinya telah mati. Mereka hidup dalam kekosongan yang hampa dan tanpa tujuan maupun arah. Dalam hal ini Kristus memberikan kehidupan yang penuh dan utuh, karena kita telah dipimpin oleh Dia dalam kasih, pemeliharaan, dan pengorbanan-Nya yang benar-benar memberikan hidup yang penuh.

Ketika seseorang benar-benar telah menerima hidup yang penuh dan berkelimpahan itu, maka hidup berlimpah itu tidak akan berhenti pada dirinya melainkan akan dibagikan terus kepada orang yang ada disekitarnya. Hal inilah yang dapat kita lihat dari kehidupan jemaat mula-mula setelah memberikan diri mereka dipimpin oleh Kristus sang Gembala Agung. Kisah Para Rasul 2:42-47 mencatat bahwa orang percaya memiliki gaya hidup yang berbeda dengan orang-orang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang memilih tetap percaya bahkan dibaptis, meskipun dalam ancaman kematian, pembunuhan, dan penyiksaan yang dilakukan para pencuri (pemimpin agama).

Di tengah ancaman kematian mereka memilih untuk dipimpin oleh Kristus yang memimpin mereka dengan kasih, pemeliharaan, dan pengorbanan-Nya. Maka dari itu mereka hidup berkelimpahan, bukan dalam hal materi namun dalam kepenuhan hidup. Mereka tidak menganggap harta sebagai hal yang utama bahkan dengan rela dan senang hati ada di antara mereka yang menjual harta miliknya dan membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai kebutuhan masing-masing (Ay. 45). Mereka hidup dalam kesatuan hati dan bertekun dalam pengajaran, persekutuan, memuji Allah, memecahkan roti dan berdoa. Pada akhirnya hidup berlimpah yang penuh dan utuh ini membuat banyak orang menyukai mereka dan menarik banyak orang untuk ikut percaya dan merasakan hidup berlimpah dalam pimpinan Kristus.

Pertanyaan bagi kita saat ini adalah: Apakah kita mau memberi diri kita dipimpin Kristus dan mengalami hidup berkelimpahan itu? Apakah kita mau menerima hidup berkelimpahan dan membagikannya dengan sesama kita? Bagaimanakah cara kita membagikan hidup berkelimpahan ini kepada sesama?

Renungkan dan gumulkanlah…

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
Bagikan Artikel Ini