Reborn
  
PERGUMULAN HIDUP & PENYERTAAN TUHAN
Dipublikasikan pada 19 Juli 2026
5 min baca

Bacaan: Kejadian 28: 10-19a

“Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. Ia sampai di suatu tempat dan bermalam di situ karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu di tempat itu dan memakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya ditempat itu” (ay.10-11). Ini merupakan kejadian di tengah konteks pelarian Yakub. Setelah menipu sang ayah untuk mendapatkan berkat dan mendapatkan ancaman pembunuhan dari Esau yang geram akibat tindakan penipuan yang dilakukannya, Yakub pergi meninggalkan Bersyeba menuju ke Haran. Yakub merasakan kesendirian dan kesepian karena harus meninggalkan keluarga dan pergi dari rumah orang tuanya, ditambah lagi dengan ketakutan karena menghadapi kemarahan Esau yang merasa ditipu dan dirugikan Yakub.

Yakub sadar, nyawanya sedang terancam. Atas saran Ribka,Yakub melarikan diri ke rumah Laban pamannya. Perjalanan Yakub bukan perjalanan tamasya, bukan perjalanan liburan tetapi sebuah pelarian. Jarak antara Bersyeba ke Betel kurang lebih 64 km. Yakub menempuhnya dengan berjalan kaki, seorang diri dan terancam. Kita dapat membayangkan apa yang dirasakan Yakub saat itu: takut, tertekan, kesepian, menderita, lelah, letih, lesu, capek dan stress. Dan perjalanan masih panjang untuk tiba di Haran, tempat Laban pamannya, kurang lebih 100 km. Ini menggambarkan betapa beratnya pergumulan hidup Yakub. Di tengah kekalutannya, ia berhenti di suatu tempat untuk beristirahat. Batu menjadi alas kepalanya, langit menjadi atapnya. Yakub pun tertidur dan bermimpi.

Mimpi yang indah dan istimewa. Yakub melihat sebuah tangga yang menghubungkan bumi dan langit.Tempat ini adalah tempat yang istimewa karena secara simbolis menjadi tempat terhubungnya dunia manusia dengan dunia illahi. Ada malaikat turun dan naik dari tangga itu, dan Tuhan pun hadir memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah Abraham dan Allah Ishak. Itu artinya, Dia bukan Allah yang asing dan tak dikenal Yakub, tetapi Allah yang ada di dekatnya dan disembah oleh kakek dan ayah Yakub. Perkenalan ini menjadi dasar untuk menegaskan tentang janji Allah kepada Abraham, sang kakek, yaitu tentang tanah bagi keturunan Abraham, termasuk Yakub di dalamnya. Dengan janji Tuhan ini, Yakub yang sedang menjadi seorang pelarian dan dalam ketakutan diberikan jaminan mengenai masa depannya. Yakub juga diyakinkan bahwa keturunannya akan menjadi sangat banyak seperti debu dan tersebar ke berbagai tempat, dan menjadi berkat bagi umat manusia di seluruh muka bumi.

“Aku menyertai engkau dan akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi” (ay.15). Janji penyertaan Tuhan ini memberi jaminan kepada Yakub bahwa dia tidak sendirian dalam perjalanan hidupnya. Di tengah pergumulan hidupnya, Tuhan hadir menyertai. Allah hadir menemani, membersamai, membimbing, mengarahkan dan melindunginya. Dalam konteks ini, perlindungan (Ibrani: shamar), berarti menjaga dan memerhatikan. Tuhan akan mengawal dan menjagai Yakub hingga ia mengakhiri masa pelarian dan perantauannya di Haran, dan Tuhan sendiri yang akan membawa kembali Yakub ke Kanaan. Berdasarkan pengalaman pergumulan dan penyertaan Tuhan, Yakub dengan penuh keyakinan menyatakan, “Sesungguhnya, Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya” (ay.16). Ia pun menamai tempat itu sebagai Betel, rumah Allah.

Hidup sebagai umat Tuhan tidak membebaskan kita dari pergumulan, itu benar. Namun juga pasti benar dan telah terbukti bahwa di dalam setiap pergumulan hidup, Tuhan selalu hadir menyertai, menuntun dan menjaga agar kita dapat mencapai tujuan. Amin.

*Pdt. Setyahadi

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
Bagikan Artikel Ini