Reborn
  
ROH YANG MENGHADIRKAN KEBAIKAN BERSAMA
Dipublikasikan pada 24 Mei 2026
4 min baca

Bacaan: Kisah Para rasul 2:1-21

SELAMAT PENTAKOSTA! “Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, tempat mereka duduk. Tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan” (ay.1-4).

Pada hari Pentakosta, TUHAN Allah mengembuskan Roh Kudus kepada para murid yang sedang berkumpul bersama di satu tempat. Peristiwa ini mengingatkan kita pada kisah penciptaan manusia, “Kemudian TUHAN Allah mengembuskan napas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi mahkluk hidup” (Kej.2:7). Di dalam hembusan napas hidup, manusia menjadi mahkluk hidup yang dapat berkarya layanan. Pertama, mengerjakan dan memelihara Taman Eden. Kedua, memberi nama kepada segala ternak, kepada burung di udara, dan kepada segala binatang liar. “Napas hidup” yang dihembuskan oleh TUHAN Allah membuat manusia dapat berkarya di tengah kehidupan untuk menghadirkan kebaikan bersama. Hal senada terjadi pada momen Pentakosta. Pada saat para murid dipenuhi Roh Kudus, mereka semua dapat berkarya dengan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Para murid dapat berbicara dengan “bahasa ibu”, yaitu bahasa tempat kelahiran dari orang-orang Yahudi yang saleh yang pada hari Pentakosta itu sedang berkumpul. Aneka macam bahasa bisa diucapkan oleh para murid, dan hal itu membuat banyak orang dari segala bangsa di bawah kolong langit tersebut menjadi mengerti tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Inilah bukti nyata pekerjaan Roh yang menghadirkan kebaikan bersama. Benarlah kata firman Tuhan, “Kepada tiap-tiap orang dikarunikan penyataan Roh untuk kepentingan bersama” (1 Kor.12:7).

Kepada Petrus dikaruniakan penyataan Roh yang memberikan keberanian kepada Petrus untuk bangkit berdiri dengan suara nyaring dan berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem, perhatikanlah perkataanku ini dan ketahuilah. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan”. Ia pun melanjutkan dengan menjelaskan firman yang disampaikan dengan perantaraan Nabi Yoel. Dalam konteks ini, Petrus menjadi salah seorang dari para murid yang diubahkan oleh Roh Kudus, dari seorang pengecut menjadi seorang pemberani, dari seorang penyangkal menjadi seorang pemberita Injil. Oleh Roh Kudus, Petrus menguduskan Kristus di dalam hatinya sebagai Tuhan (1 Ptr.315). Dan kemudian menjadi Saksi Injil Kristus. Menguduskan Kristus di dalam hati sebagai Tuhan merupakan “harga mati” untuk menjadi Saksi Kristus yang menghadirkan kebaikan bersama. Hanya ketika kita menguduskan Kristus atau hidup oleh kuasa Roh Kudus, maka kita akan menjadi saksi-Nya dan memancarkan kehidupan Kristus yang penuh kasih. Hal ini mewujud dalam bentuk perilaku yang rajin berbuat baik dengan menjaga diri dari pikiran-pikiran yang jahat.

Kita juga mempunyai panggilan yang sama seperti para murid Yesus. Kita dipanggil untuk senantiasa melakukan pekerjaan baik yang menghadirkan kebaikan bersama. Mengapa? Karena masing-masing kita juga merupakan umat yang telah dikaruniai penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Karena itu, selama masih ada kesempatan, janganlah kita jemu-jemu berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada saudara-saudara seiman. Janganlah bosan berbuat baik. Rajinlah berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menyerah (Gal.6:10). Amin.

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
Bagikan Artikel Ini