Reborn
  
MENJADI MITRA ALLAH UNTUK KESELAMATAN DUNIA
Dipublikasikan pada 07 Juni 2026
4 min baca

Bacaan: Kejadian 12:1-9

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, memberkati engkau, serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau., dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”. Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya... (ay.1-4a).

Banyak berkat adalah bekal yang diberikan Tuhan kepada Abram untuk pergi menunaikan amanat firman TUHAN. Pergi dengan misi untuk menjadi berkat. Abram diberi anugerah, dipercaya dan diberi kesempatan untuk menjadi mitra Allah dengan menjadi saluran berkat, “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat”. Dengan demikian, dalam konteks ini, Abram ‘hanya’ ditugasi untuk menjadi penerus berkat. Sebab, pada dasarnya semua berkat kehidupan berasal dari TUHAN. Kesadaran teologis ini menghantar Abram untuk menghidupi dan menghadirkan dirinya sebagai mitra Allah. Bahwasannya ia dipanggil untuk turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi TUHAN (Roma 8:28).

Kita diberkati oleh TUHAN dengan suatu tujuan agar kita tidak hanya sekadar menjadi penikmat berkat, melainkan juga berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Orang beriman tak cukup hidup dengan mentalitas penonton atau pengejar berkat, tetapi harus menjadi pemain dalam narasi keselamatan dengan hidup seturut panggilan Allah. Ini berkaitan erat dengan kesetiaan dan konsistensi dalam melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan oleh Allah. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan baik, yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10). Pertanyaan reflektifnya adalah seberapa sering kita memulai sebuah proyek, pekerjaan baik, pelayanan, tetapi kemudian meninggalkannya tanpa penyelesaian ketika berhadapan dengan kesulitan, kekecewaan dan pergumulan hidup? Banyak orang merespons panggilan pelayanan dengan sigap dan penuh semangat, namun patah di tengah jalan saat menjumpai pelayanan yang dirasa tak seindah seperti yang dibayangkan. Pelayanan di tengah keluarga, pekerjaan, gereja, hidup bermasyarakat dan hidup sebagai sahabat alam, juga sangat mungkin berhadapan dengan ancaman kebosanan serta stagnasi, putus di tengah jalan, dan bahka tak jarang menjadi “mangkrak” dan terbengkalai.

Dalam konteks yang demikian, Allah memanggil setiap orang percaya untuk tetap melakukan apa yang baik dan mulia, terus melayani, meskipun sesungguhnya kita telah jengah melakukannya. Umat dipanggil untuk melanjutkan karya kebaikan bukan karena menyukainya, melainkan karena Allah menghendakinya. Sebagaimana Abram, selaku umat Tuhan, kita diingatkan akan mandat partisipasi dalam karya keselamatan Allah. Fokus kisah Abram ini bukanlah adorasi atau pemujaan terhadap Abram sebagai bapa orang beriman, melainkan tentang Allah yang tak pernah lelah menggedor pintu kesadaran umat-Nya untuk terlibat dalam penggenapan karya keselamatan yang telah Ia rancang sejak semula. Melalui kisah pemanggilan Abram, umat beroleh penegasan bahwa janji Allah bagi umat merupakan titik tolak atas janji keselamatan Allah bagi dunia.

Pelibatan umat dalam pekerjaan Allah adalah sebuah previlege-hak istimewa untuk turut memberkati kehidupan. Pemanggilan dan pelibatan Allah kepada Abram dan tentu juga kepada kita semua adalah intensifikasi karya pembebasan dan keselamatan bagi sebanyak mungkin orang, dengan melibatkan manusia yang berkenan kepada-Nya. Kitalah mitra Allah untuk keselamatan dunia. Amin.

Pdt. Setyahadi

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
Bagikan Artikel Ini