
Kejadian 18:1-15
“Bagi Tuhan tak ada yang mustahil!” kalimat ini sering menjadi sebuah pegangan yang dipercayai oleh orang Kristen. Hal ini terjadi karena berbagai kisah nyata yang luar biasa dan menembus kemustahilan terjadi di antara umat percaya. Seperti kesembuhan yang terjadi ketika dokter sudah memvonis tidak dapat sembuh. Mungkin juga mujizat keturunan yang dinantikan bertahun-tahun dan tidak kunjung hadir, namun di waktu yang tak terbayangkan sang buah hati hadir. Kisah Alkitab dan kesaksian nyata orang percaya yang mengalaminya membuat kita dengan mudah dapat berkata, “Bagi Tuhan tak ada yang mustahil!”
Masalahnya perkataan tersebut tidak selalu diikuti dengan kepercayaan yang sama di dalam hati. Banyak orang bisa dengan mudah mengatakan kalimat tersebut, namun menjadi kecewa dan patah harapan ketika dia sendiri menghadapi pergumulan yang melawan kemustahilan. Bukan tanpa sebab dan tanpa alasan, hal ini jelas dipengaruhi oleh pemikiran logika manusia yang hari ini yang membuat kita lebih sulit percaya pada suatu mujizat yang melampaui logika dan kemustahilan. Ketika sesuatu sudah diukur, dibuktikan, dipikirkan, dan tidak masuk di akal kita maka kita bisa dengan mudah berkata, “itu tidak mungkin terjadi.”
Hal ini wajar terjadi karena ini pun menjadi sebuah pergumulan yang terjadi bukan hanya dalam kehidupan hari ini, namun juga pada masa lalu. Dalam Kejadian 18 kita dapat turut merasakan apa yang Sara rasakan dan pikirkan. Sara sudah berumur 89 hampir 90 tahun dan ia mendapat berita bahwa dirinya akan mengandung dan melahirkan anak. Sebuah kemustahilan yang sulit dipercayai bagi seseorang yang sudah renta dan sudah lama menopause. Secara logika manusia, hal ini sangat mustahil dan tidak mungkin. Hal itulah yang ditertawakan oleh Sara ketika mendengar hal itu.
TUHAN yang menjumpai Abraham dan Sara, mengoreksi dan menyatakan pernyataan yang tegas dan kuat, “Adakah sesuatu yang mustahil bagi TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali menemui engkau. Pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki.” Pertanyaan retoris yang jelas dan tegas, bahwa tidak ada yang mustahil bagi TUHAN. Hal ini juga mengkonfirmasi kembali bahwa hal yang mustahil itu pasti akan terjadi. Kita memahami pada akhirnya bahwa Ishak lahir pada saat Abraham berusia 100 tahun dan Sara 90 tahun. Sebuah mujizat yang terjadi melampaui akal dan kemustahilan.
Pada hari ini kita diajak melihat bahwa, tidak ada yang mustahil bagi TUHAN. Kita perlu menjaga iman percaya kita pada TUHAN yang berkuasa dan berdaulat melampaui segala pemikiran dan logika kita. Namun bukan berarti kita juga menjadi orang yang memaksakan kehendak kita pada TUHAN, bahwa kita selalu bisa mengalahkan kemustahilan, tidak. Melainkan kita memiliki iman bahwa TUHAN sanggup dan tetap memberikan yang terbaik sekalipun hal yang mustahil tidak teratasi. Ada yang sembuh, ada yang tidak. Ada yang akhirnya memiliki keturunan, ada yang tidak. Ada yang mengalami mujizat menghadapi kemustahilan, ada yang tidak.
Bagian kita bukan menentukan hasil akhir, tapi percaya bahwa sekalipun akhirnya tidak sesuai, TUHAN merancang yang terbaik bagi kita. Jangan berhenti memperjuangkan yang terbaik untuk hal-hal yang tampaknya mustahil, percayakan pada TUHAN dan Ia akan menjawab sesuai apa yang terbaik bagi kita.
Patrick Arba Nathanael