Reborn
  
TAK DITINGGALKAN DALAM SENGSARA
Dipublikasikan pada 21 Juni 2026
3 min baca

Bacaan: Kejadian 21:8-21

Mari kita jujur, tidak ada satu pun dari kita yang suka disisihkan. Bayangkan rasanya ketika Anda mendapati ada “grup WhatsApp di dalam grup WhatsApp” yang sengaja dibuat tanpa melibatkan Anda, atau ketika kontribusi Anda di komunitas tiba-tiba diabaikan begitu saja karena kehadiran orang baru. Rasanya sesak, marah, dan tidak adil. Diperlakukan sebagai “orang luar” di tempat yang seharusnya menjadi rumah adalah jenis kesengsaraan emosional yang sering kali kita pendam sendiri dalam diam, sambil diam-diam berharap ada orang yang menyadari dan peduli.

Rasa sakit yang familier inilah yang dialami oleh Hagar dan Ismael dalam Kejadian 21. Setelah belasan tahun menjadi bagian dari keluarga besar Abraham, status mereka mendadak berubah menjadi ancaman yang harus disingkirkan demi mengamankan kenyamanan dan warisan Ishak. Pengusiran mereka ke padang gurun yang gersang bukan sekadar konflik keluarga biasa, melainkan potret ketidakadilan di mana pihak yang lemah dikorbankan demi ego pihak yang kuat. Di bawah terik padang gurun, ketika air di kirbat habis, habis pula harapan mereka untuk bertahan hidup.

Namun, di sinilah letak indahnya plot twist dari Tuhan. Ketika manusia menutup mata dan pintu rumah bagi mereka, Alkitab mencatat bahwa Allah justru membuka telinga-Nya: ”Allah mendengar suara anak itu.” Tuhan tidak pernah tinggal diam melihat anak-anak-Nya telantar di pinggiran. Dia tidak hanya menenangkan hati Hagar yang putus asa, tetapi juga membuka matanya untuk melihat sumur air yang menyelamatkan. Kisah ini menjadi garansi bagi kita saat ini: jika Ibu, Bapak, Saudari, Saudara sedang berada di “padang gurun” kehidupan karena diperlakukan tidak adil, ketahuilah bahwa rintihanmu didengar oleh Allah yang tidak pernah meninggalkanmu.

Selain itu, firman hari ini juga mengevaluasi diri setiap kita. Seberapa sering tanpa sadar kita justru bertingkah seperti Sara dalam kehidupan sesehari? Kita kerap membuat kubu-kubu eksklusif, memandang sebelah mata kelompok usia tertentu (baik yang terlalu muda atau yang lansia), atau memilih mendiamkan ketidakadilan di sekitar kita demi mengamankan posisi nyaman kita sendiri. Ketika kita membiarkan iklim eksklusivitas ini tumbuh, kita sebenarnya sedang menciptakan “padang gurun baru” yang menyengsarakan sesama kita.

Lewat momen ini, termasuk melalui pelantikan Panitia Natal 2026 dan HUT ke-72 GKI Emaus hari ini, kita semua ditantang untuk berubah. Tema “Tak Ditinggalkan dalam Sengsara” bukan hanya sebuah janji penghiburan untuk kita nikmati sendiri, melainkan sebuah panggilan untuk berkarya. Kita dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan Allah yang meruntuhkan sekat-sekat pemisah. Mari berkomitmen untuk menghadirkan kehidupan yang inklusif, adil, dan penuh kebaikan, sehingga setiap jiwa yang datang dalam lingkungan hidup kita tahu bahwa mereka tidak sendirian dan selalu berharga di mata Tuhan. Selamat melayani dan menjadi berkat!

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
Bagikan Artikel Ini