
Bacaan: Kejadian 25:19-34
“Setiap hari saya berdoa, saya juga melayani, berusaha untuk melakukan hal baik kepada sesama, namun sampai saat ini apa yang saya minta belum juga diberi oleh Tuhan. Saya tak minta yang muluk-muluk, saya cuman minta kesembuhan untuk anak saya, tapi kog Tuhan tak menjawab doa saya.” Demikianlah seorang bapak berkeluh kesah, karena anaknya tak kunjung sembuh. Doa terkadang menjadi peluru terakhir, kala semua upaya sudah dilakukan, namun yang seringkali kita lupakan doa juga bukan soal apa hasilnya, tetapi soal relasi dengan Allah.
Perjalanan Abraham bersama keluarganya bukanlah perjalanan yang mudah, dan itu terjadi sampai pada keturunannya Ishak yang menikahi Ribka. Karena belum memiliki keturunan, Ishak berdoa memohon kepada Tuhan agar diberi keturunan, dan Tuhan menjawab dengan memberi keturunan, Yakub dan Esau. Dua orang anak yang lahir dari rahim yang sama namun memiliki karakter yang berbeda, hobby yang berbeda, Esau suka tinggal di padang dan berburu, Yakub dengan pembawan yang lebih tenang suka tinggal di kemah. Orang tuapun jatuh pada kesalahan pilih kasih, Ishak lebih mengasihi Esau, dan Ribka lebih mengasihi Yakub. Persaingan muncul, Yakub mengambil hak kesulungan dengan cara yang licik, semangkok sup merah. Ishak dan RIbka bukan salah berdoa, mereka hanya terjebak pada pola pilih kasih.
Ada doa yang dijawab, namun pada kenyataannya, jawaban doa terkadang tak juga sesuai harapan manusia seutuhnya. Setiap keluarga ingin mempunyai keturunan, namun tidak ada keluarga yang menginginkan kehidupan anggota keluarga mereka berantakan hanya karena merebut “harta” atau apa yang disebut haknya. Tetapi itu seringkali terjadi bahkan sampai saat ini, banyak orang tua merasakan pilu akibat anak yang tak lagi akur. Jika demikian bagaimanakah kita menyikapinya?
Mendidik hidup dalam kebenaran haruslah dimulai dengan melakukan kebenaran itu sendiri. Doa harus dibangun karena ingin berelasi dengan Tuhan, bukan hanya karena membutuhkan jawaban, karena yang terpenting bukanlah apakah doa ku terjawab atau tidak, namun apakah aku semakin mengasihi Tuhan melebihi jawaban doaku atau tidak. Dan kalau sudah diberi apa yang diminta apakah hatiku tetap melekat pada Allah atau tidak. Di titik inilah iman kita bertumbuh. Amin