
Bacaan: Matius 17:1–9
Ada seorang pendaki yang hampir menyerah ketika jalur yang ia tempuh makin menanjak dan berkabut. Ia tidak tahu seberapa jauh lagi puncaknya. Kakinya lelah, napasnya berat, dan ia mulai bertanya-tanya apakah perjalanan ini layak diteruskan. Namun sebelum ia memutuskan turun, sang pemandu mengajaknya naik sedikit lagi ke sebuah titik pandang. Sesampainya di sana, kabut tersibak sejenak. Ia melihat hamparan luas di bawahnya dan cahaya matahari menyinari puncak. “Lihatlah,” kata pemandu itu, “ini alasanmu mendaki.” Setelah itu mereka tetap harus turun kembali ke jalur berbatu. Tetapi kini ia melangkah dengan hati yang berbeda—bukan lagi dengan ragu, melainkan dengan keyakinan.
Peristiwa transfigurasi Yesus dalam Matius 17 bisa dikatakan serupa dengan momen tersibaknya kabut itu. Peristiwa ini terjadi tepat setelah Yesus memberitahukan tentang penderitaan dan kematian-Nya. Jalan ke depan bukanlah jalan yang mudah. Ada penolakan dari para pemimpin Yahudi dan ada ancaman kekuasaan Romawi. Namun sebelum para murid menghadapi kenyataan salib, Allah membawa mereka “naik gunung” dan memperlihatkan sekilas kemuliaan. Wajah Yesus bercahaya, pakaian-Nya putih berkilau, Musa dan Elia hadir sebagai saksi bahwa karya Allah sedang digenapi. Ini bukan pertunjukan keajaiban, melainkan peneguhan: bahwa jalan yang akan ditempuh Yesus tetap berada dalam kehendak dan kemuliaan Allah.
Suara dari dalam awan berkata, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (ay.5) Bagi kita, suara ini sudah pernah terdengar saat baptisan Yesus. Namun bagi para murid, ini adalah penegasan baru di tengah kebingungan mereka. Mereka akan segera melihat Guru yang mereka kasihi ditolak dan disalibkan. Karena itu Allah meneguhkan mereka lebih dulu. Transfigurasi menjadi cara Allah seakan berkata: “Jangan menilai segala sesuatu hanya dari apa yang tampak sekarang. Kemuliaan tidak dibatalkan oleh penderitaan. Justru melalui jalan itulah kemuliaan dinyatakan.”
Merespons transfigurasi ini para murid tersungkur ketakutan. Tanda kemuliaan Allah bukan hanya mengagumkan, tetapi juga menggentarkan. Dalam keadaan itu Yesus mendekat, menyentuh mereka, dan berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Kalimat ini menjadi jembatan antara gunung dan lembah. Mereka tidak dipanggil untuk tinggal di atas gunung. Mereka harus turun kembali, menghadapi realitas yang keras, tetapi mereka turun dengan peneguhan. Kilasan kemuliaan itu cukup untuk memberi keberanian menjalani hari esok.
Saudari dan Saudara, hidup kita pun memiliki “gunung” dan “lembah”. Ada hari-hari ketika Tuhan terasa begitu dekat dalam doa, ibadah, persekutuan, atau firman yang menyentuh hati. Itulah momen-momen peneguhan. Namun ada pula hari-hari ketika kita harus kembali ke rutinitas, pergumulan keluarga, tekanan pekerjaan, atau pelayanan yang melelahkan. Transfigurasi mengingatkan bahwa pengalaman peneguhan itu bukan untuk disimpan di puncak, melainkan untuk dibawa turun ke lembah kehidupan. Kristus yang bercahaya di atas gunung adalah Kristus yang menyertai kita di jalan yang berat.
Perintah “Berdirilah, jangan takut!” juga menjadi undangan bagi kita untuk berdiri teguh. Dalam Injil Matius, Yesus terus-menerus mewartakan Kerajaan Surga. Itulah inti ajaran-Nya. Allah menegaskan bahwa pewartaan itu benar dan berkenan kepada-Nya. Maka ketika kita memilih setia pada jalan Kristus meski harus menghadapi penolakan, kesalahpahaman atau ketidakadilan, kita sedang berdiri dalam kehendak Allah yang sama. Peneguhan Kristus memberi keberanian untuk tidak takut, sebab akhir cerita bukanlah kegagalan, melainkan pembenaran Allah.
Akhirnya, para murid tidak hanya diteguhkan untuk diri mereka sendiri. Mereka kelak menjadi saksi. Demikian pula kita. Jika Kristus telah menyentuh dan berkata kepada kita, “Berdirilah, jangan takut,” maka kita pun dipanggil untuk menjadi suara dan sentuhan yang meneguhkan sesama di tengah naik dan turun kehidupan. Di sekitar kita ada banyak orang yang sedang berada di lembah ketakutan dan kelelahan. Melalui kehadiran, doa, dan kasih yang nyata, kita dapat menjadi perpanjangan tangan Kristus yang menguatkan.
Maka, jalani hari ini dengan keberanian, sambut hari esok dengan pengharapan, dan jadilah peneguh bagi mereka yang membutuhkan. Sebab Kristus yang bercahaya itu tetap berjalan bersama kita, dari puncak hingga ke lembah kehidupan.