
Dalam situasi kemarau panjang yang disebabkan oleh el nino seperti saat ini, ada banyak kebakaran hutan dan lahan di berbagai tempat. Pada September 2023, sebuah insiden tragis terjadi di kawasan wisata Gunung Bromo. Sebuah sesi pemotretan pernikahan menggunakan flare memicu percikan api kecil di padang savana yang kering. Percikan kecil yang awalnya diabaikan itu dengan cepat membesar, membakar lebih dari 500 hektar lahan, merusak ekosistem, serta merugikan mata pencaharian warga lokal. Kelalaian kecil yang tidak segera dipadamkan akhirnya berdampak destruktif dan menghancurkan area yang sangat luas.
Dalam Keluaran 14:19–31, kita melihat bagaimana kerasnya hati Firaun dan bangsa Mesir membawa mereka pada kehancuran total. Kesombongan, dendam, dan rasa tidak mau mengalah yang terus dipelihara akhirnya menggulung mereka di tengah Laut Teberau. Tuhan menunjukkan bahwa membiarkan kejahatan, kemarahan, dan ketidaktaatan berlarut-larut hanya akan berujung pada kebinasaan.
Sering kali, konflik dan sakit hati dalam hubungan antar manusia bermula dari hal-hal yang sangat remeh seperti perkataan yang salah, kesalahpahaman, atau rasa tersinggung. Ketika kita enggan membereskan dan memberi pengampunan serta membiarkan "percikan" itu tetap menyala, ia akan berubah menjadi api dendam yang membakar kedamaian hati, merusak keluarga, dan menghancurkan persekutuan. Mengampuni dan membereskan masalah dengan segera adalah cara kita memadamkan percikan tersebut sebelum berubah menjadi bencana yang tak terkendali.
Efesus 4:26–27
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”