Reborn
  
MENANTI MASA DEPAN DALAM DOA DAN KESATUAN
Dipublikasikan pada 17 Mei 2026
4 min baca

Kisah Para Rasul 1:6-14

MENANTI MASA DEPAN

Para murid menanti masa depan. Bukan sekadar masa depan, tapi masa depan yang dipulihkan. Dengan kerinduan tersebut, mereka bertanya kepada Tuhan Yesus, "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (ay.6). Ini adalah pertanyaan yang baik. Setidaknya ada 2 (dua) alasan. Yang pertama, karena pertanyaan ini menunjukkan harapan akan terjadinya pemulihan kerajaan bagi Israel. Alasan yang kedua ialah adanya kerinduan para murid bahwa pemulihan itu terjadi dalam waktu dekat.

MENANTI DENGAN FOKUS YANG TEPAT

Fokus dari penantian para murid adalah pada waktu pemulihannya. Ini bukanlah fokus yang tepat. Menangkap fokus para murid tersebut, Tuhan Yesus menggeser fokus mereka ke arah yang tepat, yaitu kepada apa yang menjadi bagian dari para murid.

Tuhan Yesus mengawali jawaban-Nya dengan, “Kamu tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan sendiri menurut kuasa-Nya.” Dengan kata lain, “Jangan fokus pada waktunya!”. Pertanyaannya, “Jika bukan fokus pada waktu, lalu mesti fokus ke mana?” Tuhan Yesus melanjutkan jawaban-Nya, "…Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Perhatikan pengulangan kata ganti “kamu” dalam jawaban tersebut! Pengulangan tersebut menggeser fokus para murid kepada apa yang menjadi bagian dan tanggung jawab mereka.

Dalam masa penantian, kita seringkali berfokus pada bagian akhir. Namun, kita seringkali lupa melakukan bagian dan tanggung jawab kita. Kita perlu fokus pada apa yang menjadi bagian dan tanggung jawab kita tanpa melupakan bagian akhir.

MENANTI DENGAN SIKAP YANG TEPAT

Setelah kenaikan Tuhan Yesus, para murid kembali ke Yerusalem dan mereka “…bertekun dengan sehati dalam doa bersama.” (ay.14). Melalui sikap yang ditunjukkan para murid ini kita belajar 3 (tiga) hal, yaitu:

1. Ketaatan kepada Tuhan

Para murid bertekun dengan sehati dalam doa bersama adalah bentuk ketaatan mereka kepada perintah Tuhan Yesus. (bdk. ay. 4)

2. Kemelekatan kepada Tuhan

Bertekun dengan sehati dalam doa bersama adalah bentuk nyata kemelekatan seseorang kepada Tuhan. Berdoa berarti berelasi dengan intim dengan Allah. Berdoa bukan hanya berbicara kepada Allah tapi yang lebih penting dari itu adalah mendengarkan Allah. Kita tidak bisa bekerja atau bersaksi tentang Allah jika kita tidak melekat kepada-Nya. Tanpa kemelekatan kepada Tuhan kita tidak memiliki kuasa. Tanpa kemelekatan kepada Tuhan, kesaksian dan pekerjaan kita adalah hal yang kosong dan palsu.

3. Kebergantungan kepada Tuhan

Bertekun dengan sehati dalam doa adalah bentuk kebergantungan seseorang kepada Allah. Seperti seseorang yang berjaga-jaga dan siap untuk menerima perintah, demikianlah orang yang berdoa. Berdoa seringkali dianggap sebagai sikap yang pasif. Ini adalah anggapan yang salah. Hal ini terbukti dari sikap para murid yang menunjukkan ketegasan, keberanian dan tindakan-tindakan lainnya sebagai buah dari doa mereka.

KESIMPULAN

Menanti masa depan perlu dilakukan dengan fokus dan sikap yang tepat. Kita perlu fokus pada apa yang menjadi bagian dan tanggung jawab kita. Dalam menanti masa depan kita perlu bersikap taat, melekat dan bergantung pada Tuhan karena dengan demikian kita sedang menyongsong masa depan di dalam dan bersama Allah. Amin.

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
Bagikan Artikel Ini