Pernahkah kita menghadapi situasi yang membuat hati cemas dan takut? Kadang malapetaka datang tanpa peringatan, entah berupa masalah keluarga, pekerjaan, atau bencana yang nyata. Alkitab mengingatkan kita bahwa orang bijak tidak gegabah menghadapi bahaya. “Bila orang bijak melihat malapetaka, maka bersembunyilah ia” (Amsal 22:3). Kata “bersembunyi” di sini bukan berarti lari tanpa arah, tetapi mengambil langkah bijak untuk melindungi diri dan orang lain.
Bayangkan seorang anak bermain di dekat sungai saat hujan deras. Orang bijak tidak akan memaksakan diri tetap bermain, tetapi segera mencari tempat aman. Demikian juga dalam hidup, ketika kita menyadari ada bahaya yang mengancam — baik secara fisik maupun rohani — bijaksana jika kita berhati-hati dan mempersiapkan diri.
Bersembunyi dari malapetaka juga berarti menaruh kepercayaan pada Allah. Kita dapat berdoa, meminta bimbingan, dan bertindak dengan hati-hati. Dalam setiap keputusan yang kita ambil, Allah ingin kita menggunakan akal sehat dan hikmat yang Dia berikan, bukan sekadar mengandalkan keberanian tanpa pertimbangan.
Renungan ini mengajarkan kita pentingnya kewaspadaan. Orang bijak belajar membaca tanda-tanda bahaya lebih awal, sehingga bisa menghindari kerugian atau kehilangan. Kadang, menyelamatkan diri bukan soal kalah, tetapi soal bijak menghadapi situasi dan tetap menjaga kehidupan yang telah Allah percayakan kepada kita.
Mari hari ini, kita belajar menjadi bijak: mengenali bahaya lebih cepat, mengambil langkah tepat, dan selalu bersandar pada Tuhan. Dengan demikian, kita tidak hanya selamat dari malapetaka, tetapi juga bisa menolong orang lain di sekitar kita.