oleh Josua Bernard
Kehidupan yang dipenuhi oleh Kasih Ilahi
םאֹתָ בָּרָא וּנְקֵבָה זָכָר, וֹתאֹ בָּרָא אֱלֹהִים בְּצֶלֶם, בְּצַלְמוֹ הָאָדָם–אֶת םאֱלֹהִי וַיִּבְרָא
“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Taurat, Kejadian 1:27)
Allah menciptakan manusia menjadi mahkota ciptaan karena kasihNya. Fitrah sejati dari manusia ialah diciptakan menurut Gambar dan Rupa Allah (Kej 1:26-27). Berarti manusia adalah cerminan dari Sang Gambar Allah itu sendiri, yakni Sang Firman Allah, yang “adalah Gambar wujud Allah” (Ibrani 1:3; Kolose 1:15). Maksudnya, Firman Allah yang kekal dalam diri Allah ini, keluar dari Allah, seperti “terang yang memancar dari sumber terang”, sehingga setiap orang dapat mengenal Allah melalui FirmanNya itu. “Tak seorangpun dapat melihat Allah”, demikian kesaksian Rasul Yohanes, “tetapi Anak Tunggal Allah yang di pangkuan Bapa (Firman yang ada dalam diri Allah), Dialah yang menyatakanNya” (Yohanes 1:18).
Allah yang selalu bersama dengan FirmanNya dan RuhNya dari sejak kekekalan, dapat dikenal oleh manusia yang diciptakan menurut gambarNya. Karena fitrahnya itu, manusia dipanggil untuk menjalani hubungan yang intim dengan Allah. Akibat berada dalam Kasih Ilahi, manusia dapat mengenal Allah, meneladani tabiatNya, serta tenggelam dalam cahaya kasihNya. Manusia ditentukan untuk menjalani kehidupan yang kekal dalam kasihNya di muka bumi ini.
Tiba-tiba..
Godaan datang menghampiri manusia, ia terlena dan keluar dari kehendak Ilahi dengan tidak mentaati perintahNya. Manusia telah jatuh ke dalam dosa. Fitrah manusia yang diciptakan menurut GambarNya itu menjadi rusak. Kehilangan fitrah ini membuat hubungan kasih Allah dengan manusia menjadi terputus, sehingga manusia menjadi jauh dari Allah akibat dosa. Manusia berada diluar Kasih Ilahi akibat kehilangan persatuan dengan Sang Maha Kasih, dan berada dalam kegelapan ruhani akibat terpisah dari Allah Sang Sumber Terang. Karena berada diluar Kasih Ilahi, membawa kekacauan pada seluruh ciptaan (Kejadian 2:17), dan manusia menjadi sasaran dari berbagai macam penderitaan, penyakit, bencana alam. Konsekuensinya, manusia yang awalnya ditentukan untuk kehidupan kekal ini, perlahan akan menuju kepada kebinasaan kekal, sebab “upah dosa ialah maut” (Roma 6:23)
Fitrah seluruh manusia telah menjadi rusak sehingga menghalangi jalan kembali kepada Allah. Pada titik ini, manusia memerlukan Rahmat Ilahi, seperti “perangkat rusak hanya dapat diperbaiki oleh pembuat perangkat”. Demikian pula, hanya Allah Sang Pencipta manusia, yang dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan menuju hubungan intim denganNya dalam Kasih Ilahi.
Karena keadilanNya, Allah memandang bahwa perbuatan dosa harus mendapatkan hukuman yakni kebinasaan kekal. Namun kasihNya yang kekal, menghendaki agar ciptaanNya yang berharga itu terlepas dari maut dan kembali berhubungan denganNya dalam kasih. Diantara pilihan Ilahi itu, jalan satu-satunya ialah Pengurbanan Agung. Ia mengurbankan Dirinya sendiri sebagai ganti dari manusia, agar manusia terhindar dari kebinasaan kekal. Akibat dorongan kasih yang sempurna, Ia rela menjalani penghukuman yang seharusnya dialami manusia, dan memperbaiki semua yang telah rusak karena dosa.
Keselamatan dalam Al-Masih memungkinkan Allah menunjukan kasihNya yang besar tanpa menghilangkan sifat keadilanNya.
RencanaNya terjadi..
Sang Firman Allah turun menjadi Manusia Sempurna
Di Malam nan Indah,
Yesus turun untuk mengembalikan manusia kepada fitrahNya yang semula, yakni dengan rela mengurbankan diriNya demi manusia yang diKasihiNya
Dia yang Tak Terbatas Ruang dan Waktu, rela membatasi diriNya untuk sementara, supaya dapat menanggung hukuman, dan membebaskan manusia dari maut jahanam, serta menjadikannya ciptaan yang baru.
Dia yang Kekal memasuki dunia yang fana, untuk menghancurkan tembok pemisah dan membawa manusia kembali dalam hubungan yang intim denganNya.
Karena kasihNya yang luar biasa, Dia rela menjadikan Tubuh ManusiaNya menjalani hukuman maut, untuk memperbaharui fitrah kemanusiaan agar dapat mengenal Dia kembali dalam Kasih.
Dari “Terang yang tak terhampiri” (1 Tim 6:16), Ia membawa Terang itu kepada dunia yang gelap, untuk menuntun manusia dari jurang maut dan kembali masuk dalam Kasih Ilahi.
Dengan demikian, Al-Masih mengakhiri kuasa maut dalam dunia, dan mendamaikan seluruh isi dunia ini dengan Allah (2 Korintus 5:19). Ia memulihkan seluruh kodrat manusia kepada fitrahnya semula, seperti dituliskan oleh St. Athanasius, Uskup gereja di Mesir: “Tidak ada yang dapat menciptakan kembali orang-orang yang diciptakan menurut rupa Allah, kecuali Rupa Allah sendiri”. Melalui PengurbananNya, Ia telah menjadikan kita ciptaan baru yang dapat menjalin hubungan yang intim denganNya, dan memberi kita pengharapan akan kehidupan kekal bersama Dia yang Penuh Kasih. Tak hanya itu, seluruh semesta ini akan Ia pulihkan menjadi langit dan bumi yang baru (Why 21:1). Inilah Kasih Ilahi yang menyelamatkan. Kasih yang membawa manusia kembali menemukanNya. Kasih yang tergores dalam setiap batin, yang menggerakan kehidupan yang intim dengan Sang Khalik.
…
Dan semuanya itu berawal dari malam ini, dalam sebuah kandang domba yang kecil, dalam palungan yang sederhana, terbaring Bayi Mungil nan perkasa sedang tertidur lelap dalam dekapan BundaNya. Sang Firman yang rela membatasi diriNya dalam kefanaan, seolah menantang kecongkakan manusia yang selalu menempatkan akal diatas segalanya. Malam ini menjadi awal dari peristiwa yang mengubah takdir dunia. Malam ini menjadi titik pancang dari pemulihan segala sesuatu. Kita bersyukur dapat menikmati malam Natal ini dengan penuh sukacita. Namun, dengan tetap memaknai malam ini dan merefleksikannya dalam batin kita. Kita meneruskan Terang Abadi itu dalam tiap perilaku kita. Karna itu, dengan dipenuhi Kasih Ilahi dan kerendahan hati, kita merenungi akan makna kedatanganNya, sembari berlutut dan melantunkan kidung dari Para Malaikat Surgawi di malam nan syahdu ini :
الْمَسَرَّةُ وَبِالنَّاسِالسَّلاَمُالأَرْضِوَعَلَىالأَعَالِيفِيلِلَّهِالْمَجْدُ
Al-Majdu lil-lah fi al-a’ali wa ‘ala al-‘ardhi as-salam wa bi an-nas al-masarrah
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”
(Injil Lukas 2:14, 25 Tebeth 3757 / 25 Desember 5 SM)