
Bacaan: Kejadian 22:1-14
Saya sering mendengar orang berkata, “Tuhan tidak mencobai, Dia menguji!” Ya, maksudnya, kalau mencobai ‘kan untuk menjatuhkan, sedangkan menguji tujuannya untuk naik kelas. Itu lho, seperti kita mendapatkan ujian di sekolah atau kuliah. Jadi, kalau nilai kita jadi hancur gara-gara guru atau dosen memberikan ujian yang terlampau sulit mungkin itu bukan ujian lagi, tapi pencobaan! He he he... Sejujurnya, saya pribadi tidak merasa Tuhan betul-betul menguji manusia. Bagi saya, ujian diberikan sebagai alat ukur untuk mengetahui kualitas dari diri seseorang. Karena itu, Tuhan, tidak perlu menguji, karena Ia sudah tahu segalanya. Tetapi ternyata, ini hanya masalah bahasa dan rasa. Karena kita yakin Allah berkuasa dan segala sesatu datang dari-Nya atau atas seizin-Nya, dan kita percaya Tuhan itu baik dan tidak ada kejahatan pada-Nya, maka kala kita menerima penderitaan dan beban persoalan, tidak kita katakan ini diberikan oleh Tuhan begitu saja. Kita akan mengatakan bahwa ini adalah ujian dari Tuhan.
Begitu juga yang kita jumpai dalam bacaan kita. Sesungguhnya, Allah tidak memerlukan ujian ini karena Ia sudah tahu betul kualitas Abraham. Tapi seringkali manusialah yang tidak tahu. Kita bisa saja salah menilai diri kita karena kesalahan masa lampau yang pernah kita lakukan. Seperti Abraham, upayanya dalam menjadi taat tidaklah selalu sempurna. Sedikit banyak ia bersalah, ketika berbohong tentang Sara demi selamatnya sendiri, dan ketika ia bersedia mempunyai anak dari Hagar. Menerima fakta ini, bisa saja dia menjadi ragu akan dirinya sendiri, terutama dalam hal mengikuti rancangan Allah. Karena itu Allah perlu menolongnya dengan cara: mendorong imannya menjadi kenyataan. Penulis surat Yakobus menuliskan tentang dia, “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan ... ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? ... Sebab, sebagaimana tubuh tanpa roh mati, demikian juga iman tanpa perbuatan mati” (Yak. 2:21, 26). Iman itu harus nyata. Iman yang hanya disimpan atau menjadi slogan, tidak hanya menjadi sebuah omong kosong yang besar, tetapi juga bisa membuat kita tersesat dan terhilang dari hadapan Allah.
Tetapi, dorongan dalam bentuk ujian ini pun bisa “membahayakan”. Ketika Abraham “dipaksa” untuk dapat menyatakan imannya, ia bisa saja gagal. Karena “keinginannya” bisa saja terlampau besar dibandingkan “ketaatannya”. Padahal, di “ujian iman” kali ini, Abraham diminta untuk melakukan hal yang sifatnya bertentangan dari apa yang dijanjikan sebelumnya, yaitu memiliki keturunan yang sangat banyak. Kalau saja ia terlanjur ikut menginginkan visi yang diberikan Tuhan kepadanya itu, ia bisa saja menolak perintah Tuhan yang ini. Atau sebaliknya, kalau saja ia sangat ingin untuk bisa membuktikan ketaatan mutlak pada Tuhan, ia bisa saja kebablasan dan membunuh Ishak.
Kalau begitu apa yang menyelamatkannya? Dua hal: pengenalannya akan Tuhan dan firman Tuhan itu sendiri. Dua hal ini seakan berjabat tangan, saling bekerja sama. Kita bisa lihat, ketika Abraham ditanya oleh Ishak, ia menjawab, “Allah yang akan menyediakan anak domba...” Dan itu yang betul terjadi! Abraham kenal siapa Allahnya. Selain itu firman Tuhan terus membimbing dan menegurnya, menjauhkan dirinya serta Ishak dari celaka. Tuhan tidak membiarkan kita terjebak dalam ”ujian” iman. Tuhan menolong, melalui firman Tuhan, sehingga ujian iman betul-betul menjadi ruang bagi kita mewujudkan apa yang selama ini kita imani, dan membuat kita semakin yakin lagi dalam berjalan dalam rancangan Allah.