
Bacaan: Kejadian 32: 22-31
“Pada malam itu, Yakub bangun dan membawa kedua istrinya, kedua hambanya perempuan dan kesebelas anaknya, lalu menyeberang di tempat penyeberangan Sungai Yabok. Sesudah menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miiknya. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Kemudian seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing” (ay.22-24). Ini merupakan episode lanjutan dari kisah pelarian Yakub. Rasa takut masih menyelimuti diri Yakub, sebab persoalan dengan Esau yang merasa ditipu dan dirugikan oleh Yakub belum menemukan titik temu. Dalam bayang-bayang ketakutan ini, Yakub bersama dengan keluarganya melanjutkan perjalanan menyeberangi sungai Yabok. Seorang teolog, Walter Lempp mengungkapkan bahwa sungai Yabok adalah sungai yang menuruni lembah yang cukup curam, dan karena itu memiliki aliran air yang cukup deras. Kondisi ini menyebabkan operasi penyeberangan yang dilakukan pada malam hari sangat beresiko untuk rombongan manusia dan ternak. Namun demikian, Yakub tidak menyerah. Ia terus berusaha menjalankan perannya untuk memastikan keluarga beserta segala miliknya dapat menyeberang dengan selamat. Hal ini meceritakan tentang ketahanan dan daya juang Yakub. Bahwa dalam kondisi sulit dan berat ini, Yakub pantang menyerah dan kalah. Ia tetap bertahan dan berjuang terus.
Setelah semuanya menyeberang, kini ia tinggal sendiri. Di tengah kesendirian itu, seorang laki-laki muncul dan bergulat dengan Yakub. Siapakah laki-laki ini? Apakah dia seorang pembunuh yang dikirim Esau? Tentu tidak. Ada banyak yang mengatakan bahwa dia adalah malaikat Allah. Tetapi menurut saya ada cukup petunjuk dalam cerita bagi kita untuk mengetahui identitas laki-laki yang bergulat dengan Yakub. Ada kemungkinan bahwa laki-laki ini adalah malaikat. Tetapi kalau laki-laki itu adalah malaikat, mengapa dia harus pergi ketika fajar menyingsing? Apakah malaikat memiliki jam malam? Tentu saja tidak. Kalau begitu, siapakah dia? Jika kita perhatikan narasinya, maka hanya ada satu kesimpulan tentang identitas laki-laki ini. Laki-laki ini tidak lain adalah Allah yang mengambil wujud manusia (Teofani: ‘penampakan Allah dalam sosok laki-laki). Hal tersebut didasari dari pernyataan Yakub sendiri yang berkata, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku selamat!” (ay.30). Dan, ini menjelaskan mengapa dia harus pergi saat fajar tiba, karena kita tahu bahwa tidak ada yang bisa melihat Allah dan akan tetap hidup. Perjumpaan tersebut bukanlah perjumpaan biasa. Perjumpaan itu bukanlah tegur sapa hangat, melainkan pergulatan hebat antara Yakub dengan manifestasi Allah itu. Pergulatan yang begitu monumental dengan durasi yang panjang, dari malam hingga fajar menyingsing, dan meninggalkan luka pada sendi pangkal paha Yakub. Bagian ini juga menegaskan tentang Yakub yang tetap bertahan dan berjuang terus.
Gulat adalah jenis olah raga yang sangat melelahkan. Dan inilah yang menarik, Yakub menghabiskan hidupnya dengan bergulat untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia bergulat dengan Esau. Dia bergulat dengan Laban, dan Yakub selalu menang. Gulat adalah perumpamaan hidup Yakub. Dan sekarang, Allah datang dan bergulat dengan Yakub. Namun, kali ini berbeda. Yakub tidak bisa menang. Lalu, ia pun mengenal lebih dekat kebesaran Allah yang mecurahkan berkat melalui pergulatan hidupnya.
Pergulatan hidup adalah sarana dan kesempatan yang Tuhan sediakan untuk memproses, melatih dan menjadikan kita sebagai umat yang sanggup bertahan dan berjuang terus dalam perjuangan kudus. Dan, ingatlah selalu bahwa ujung-ujungnya adalah berkat Tuhan. Maka, tahanlah dan berjuang t’rus. Amin.
*Pdt. Setyahadi