
Bacaan: 1 Samuel 3:10-4:1a
Samuel semakin besar. Tuhan menyertai dia…. (1 Samuel 3:19a)
Tidak setiap orang memperoleh keistimewaan seperti Samuel. Bahkan, sebelum ibunya mengandung dirinya, ia telah didoakan. Setelah kelahirannya, ia diserahkan kepada Tuhan (1 Sam. 1:28). Selanjutnya, Samuel bertumbuh besar dalam asuhan Imam Eli (1 Sam. 2:11) yang sangat dihormati oleh umat Israel. Dapat dibayangkan betapa setiap hari Samuel mendengar nasihat bijaksana, belajar menjadi bijaksana, dan diharapkan menjadi bijaksana.
Namun, semua keistimewaan tersebut tidak sertamerta menjadikan Samuel bijaksana. Ia pernah merasa bingung ketika mendengar namanya dipanggil, tetapi ternyata bukan Imam Eli yang memanggilnya (1 Sam. 3:4– 5). Ia juga pernah merasa takut saat harus menceritakan kepada Imam Eli apa yang Allah sampaikan kepadanya. Ya, Samuel tidak serta-merta menjadi sosok panutan umat Israel. Ada serangkaian cerita susah-senang dan jatuh-bangun yang harus ditempuh sebelumnya. Namun, apa pun dan bagaimana pun cerita hidupnya, Samuel tahu bahwa TUHAN terus dan selalu menyertainya.
Kisah Samuel adalah cerminan kisah kita. Seperti Samuel, kita tidak serta-merta menjadi diri kita yang sekarang. Ada proses panjang yang telah kita lewati. Bahkan, hingga kini, kita masih terus berproses menjadi pribadi yang dikehendaki Allah. Jadi, apabila kita pernah keliru dalam merespons suara Allah, janganlah berkecil hati. Teruslah maju karena Tuhan senantiasa beserta kita.
REFLEKSI:
Mengenal dan memahami Tuhan adalah proses seumur hidup.
Selamat terus berproses!