Mazmur 31:1-5, 15-16
Tetapi, aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata, “Engkaulah Allahku!” (Mazmur 31:15)
Beriman kepada Tuhan bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan memilih untuk tetap memercayai Tuhan di tengah ketakutan yang kita rasakan. Beriman bukanlah ketiadaan rasa takut atau tekanan hidup. Justru dalam kerapuhan itulah iman menemukan bentuk sejatinya, yaitu bersandar kepada Tuhan meskipun segala situasi belum berubah. Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap rasa takut. Respons terhadap rasa takut itulah yang menentukan kualitas iman seseorang.
Mazmur 31 menggambarkan situasi Daud yang berada dalam pergumulan yang membuatnya merasa takut: dikejar musuh, dikhianati, dan berada di ujung batas kemampuannya. Daud berseru, “Kepada-Mu, TUHAN, aku percaya.” Kata percaya di sini bukan sekadar harapan kosong, melainkan sebuah penyerahan total bahwa hidup ini, dengan segala masalah dan masa depannya, ada dalam tangan TUHAN. Daud menyadari bahwa kekuatan manusia ada batasnya, tetapi kuasa TUHAN tidak terbatas. Itulah sebabnya ia berkata, “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu” (ayat 16). Ia memercayakan hidupnya kepada TUHAN.
Bagaimana dengan kita? Di tengah pergumulan keseharian yang kita hadapi, kita pun bisa berkata, “Kepada- Mu, Tuhan, aku percaya.” Ketika kita berserah, kita belajar percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang berharap kepada-Nya. Tetaplah teguh karena kita ada dalam tangan-Nya.
DOA:
Tuhan, kami percaya bahwa hidup kami ada dalam tangan-Mu. Ajarlah kami berserah dan tetap teguh dalam iman, apa pun yang terjadi. Amin.