Reborn
  
DISENTUH FIRMAN HARI INI, DIUTUS KE DUNIA
Dipublikasikan pada 19 April 2026
4 min baca

Bacaan: Kisah Para Rasul 2:36-41

Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, kita seringkali merasa lelah karena harus terus "menyesuaikan diri." Hal ini membuat kita mencari pegangan pada sistem yang menjanjikan stabilitas. Entah itu karier yang mapan, pengakuan sosial, atau sekadar algoritma media sosial yang membuat kita merasa "aman" dalam kelompok yang setuju dengan kita. Akan tetapi, di balik semua upaya itu, yang sering muncul kemudian adalah rasa sepi yang tersisa. Kita merasa seperti sekadar angka dalam mesin besar dunia yang dingin, di mana wajah sesama manusia sering terlupakan di balik layar kaca. Pernahkah kita bertanya: “Dalam kekecewaan dan kelelahan ini, adakah yang mampu menembus tembok batin kita yang paling dalam?”

Dalam Kisah Para Rasul 2:36-41, Petrus menyampaikan sebuah kabar yang menjungkirbalikkan logika dunia. Ia menyatakan bahwa Yesus, yang disalibkan oleh sistem kekuasaan yang korup dan kaku, justru telah ditetapkan Allah menjadi Tuhan dan Mesias. Gelar ini bukan sekadar istilah keagamaan yang manis. Menyebut Yesus sebagai "Tuhan" berarti menyatakan bahwa kaisar, presiden, harta, atau kuasa mana pun di dunia ini tidak memiliki hak milik mutlak atas hidup kita. Kisah Para Rasul mencatat, mendengar hal itu, hati para pendengarnya "tertikam". Firman itu tidak sedang meminta izin, firman itu datang menyentuh, menggugah, dan menantikan respons (jawaban).

Kehangatan rohani muncul saat kita menyadari bahwa ada harapan justru di tengah kehancuran. Petrus tidak menawarkan solusi politik yang dangkal, melainkan mengajak mereka mengalami pembebasan dan penghapusan belenggu. Yesus diurapi bukan untuk membangun kerajaan yang menindas, melainkan untuk membawa kabar baik bagi yang miskin, pembebasan bagi yang tertawan, dan harapan bagi mereka yang batinnya remuk oleh ketidakadilan struktural maupun kekecewaan pribadi.

Seorang pemikir, Emmanuel Levinas, pernah menekankan tentang "etika wajah." Baginya, ketika kita sungguh-sungguh memandang wajah sesama, muncul sebuah perintah moral yang tak bisa diabaikan. Demikianlah cara Firman bekerja. Saat kasih Allah menyentuh kita, batin kita menjadi peka untuk melihat "wajah" sesama yang menderita, yang diabaikan, dan yang terasing. Kehangatan yang kita rasakan di dalam liturgi gereja (ibadah di dalam gedung gereja) seharusnya tidak berhenti di bangku gereja, melainkan meluap menjadi "liturgi kehidupan" (ibadah yang sejati) di jalanan.

Pertanyaannya sekarang: apakah kita mau berhenti mengeraskan hati terhadap Firman yang sedang "menikam" kita hari ini? Ataukah kita terlalu sibuk melindungi diri dengan tembok kekecewaan hingga tidak menyadari bahwa Allah sedang menarik kita keluar dari diri sendiri? Pertobatan yang diminta Petrus bukan sekadar rasa sesal, melainkan keberanian untuk berbalik arah. Berbalik dari cara hidup yang hanya mementingkan keamanan diri sendiri, menuju cara hidup yang menghidupi kemerdekaan di dalam Kristus.

Kita diberi harapan bukan untuk disimpan sendiri, tapi untuk dibagikan. Kita disentuh oleh Firman hari ini, agar kita siap diutus ke dunia yang sedang terluka. Hidup kita pada akhirnya bukan ditentukan oleh seberapa kuat kita bertahan dalam kekecewaan, melainkan oleh seberapa nyata kasih Kristus terpancar melalui kita untuk memulihkan sesama.

Bagikan
Artikel Lainnya
Lihat Artikel Lainnya
Bagikan Artikel Ini