
“Nak, kalau kamu dapat nilai rapor bagus, Papa akan belikan sepeda untukmu.”Janji seorang ayah kepada anaknya. Hari itu akhirnya tiba, si anak mendapat hasil rapor yang sangat memuaskan, sang ayah menepati janjinya, semua bergembira karenanya. Sebuah janji yang ditepati pasti mendatangkan kegembiraan besar. Apalagi kalau menantinya butuh waktu yang tidak sebentar.
Sejak pembuangan di Babel, umat Israel menanti datangnya Sang Mesias yang dinubuatkan oleh para nabi. Umat berharap datangnya Sang Mesias akan membebaskan mereka dari belenggu penindasan dan menegakkan kembali kerajaan Daud. Mereka menaruh harapan besar itu pada Yesus. Mengapa? Mereka telah melihat berbagai kuasa dan karya ajaib yang dilakukan oleh Yesus. Pengajaran-Nya begitu berwibawa, menarik perhatian dan antusias banyak orang bergerak mengikuti-Nya. Bagi umat Israel, Yesus adalah sosok yang dinanti sesuai dengan janji Allah yang akan membebaskan umat-Nya. Tak heran, ketika Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggang seekor keledai, Ia disambut gegap gempita bak seorang Raja Damai yang akan menggenapi janji Allah. Tindakan orang banyak yang menghamparkan pakaian serta membawa dan menebarkan ranting pohon (lih. Yoh. 12:13 – ranting = daun palem) menegaskan keyakinan mereka bahwa janji pembebasan akan segera digenapi. Hari itu, umat menyaksikan pemenuhan janji Allah, datangnya Sang Mesias yang akan menyelamatkan dan membebaskan mereka dari belenggu. Sayangnya, tidak lama sesudah peristiwa itu, seruan : “Hosana” (Tuhan, tolong atau selamatkan kami) berganti menjadi seruan “Salibkan Dia!”.
Peringatan Minggu Palmarum mengungkap hal yang ironis! Seruan cinta menyambut hadirnya Sang Raja seketika berubah menjadi seruan kebencian menolak Sang Raja. Penyebabnya karena mereka kecewa bahwa Sang Raja rupanya memilih jalan salib untuk menyelamatkan dunia, tidak seperti persepsi dan ekspektasi mereka bahwa Sang Raja akan membebaskan umat dari penindasan romawi dengan mengangkat senjata. Kita pun rentan menjadi seperti umat Israel, yang awalnya berseru : “Hosana”, lalu berubah menjadi : “Salibkan Dia!” Dalam pengalaman hidup beriman, tidak sedikit orang menjadi kecewa, marah dan bahkan menyalahkan Tuhan, hanya karena ia merasa Tuhan diam dan tidak mengabulkan doanya; marah karena menganggap Tuhan berlaku tidak adil, sebab ia sudah melakukan kewajiban ini dan itu, tapi nyatanya hidupnya penuh pergumulan yang sulit; menyalahkan Tuhan karena hidup yang dijalani tidak seperti yang diharapkan atau dirancangkan oleh dirinya. Bagaimana dengan kita? Hari ini kita telah menyaksikan pemenuhan janji Allah melalui berbagai pengalaman dalam hidup ini. Kiranya pengalaman demi pengalaman yang sudah kita lalui bersama Tuhan membuat kita semakin teguh beriman dan mempercayakan seluruh kehidupan kita dalam rancangan dan kehendak-Nya. (MAR)